4 Kuil Bersejarah Diseluruh Dunia

Sarat akan nilai sejarah dan budaya, kuil memegang peran penting dalam kehidupan beragama dan juga industri pariwisata. Desain arsitektur yang indah, struktur bangunan yang tak lekang oleh waktu, serta kisah sejarah yang menarik adalah sebagian daya tariknya. Tidak sekadar sedap dipandang, beberapa kuil bahkan mengemban rekor atau gelar bertaraf internasional. Berikut 12 kuil-kuil menakjubkan di seluruh penjuru dunia yang menjanjikan pengalaman tak terlupakan.

Cando Borobudur, Magelang

Mulai dibangun pada abad kedelapan, bangunan bersejarah ini tidak hanya penting bagi para penganut Buddha, tetapi juga memegang peran signifikan dalam industri pariwisata Tanah Air. Bangunan ini merupakan salah satu daya tarik terbesar Indonesia. Setiap tahunnya, para penganut Buddha, dari Indonesia maupun luar negeri, berkumpul di kompleks candi ini untuk merayakan Waisak. Sempat masuk daftar tujuh keajaiban dunia, UNESCO tak tanggungtanggung menyebut Candi Borobudur sebagai monumen Buddha sekaligus kompleks stupa terbesar dan paling menakjubkan di dunia. Candi yang berlokasi di kota Magelang, Jawa Tengah ini dibangun pada puncak kejayaan Dinasti Sailendra di Kerajaan Mataram Kuno dengan pengaruh arsitektur Indonesia, Buddha, serta seni gupta dari India. Pengaruh budayabudaya tersebut dapat dilihat dari ribuan relief dan ratusan patung yang tersebar di fasadnya.

Candi Buddha Mahayana ini menaungi 2.672 relief, yang menggambarkan ajaran Buddha serta perkembangan hidup masyarakat Jawa pada abad kedelapan, mulai dari kehidupan di kerajaan, hutan, desa, hingga ragam flora dan faunanya. Untuk mengikuti alur ceritanya, Anda harus memulai perjalanan di pintu masuk timur dan menyusuri reliefnya searah jarum jam, mulai dari bawah hingga bagian atas candi. Kumpulkan niat dan siapkan stamina Anda sebelum melakukan kegiatan yang disebut pradaksina ini. Jika dibentangkan, total relief di Candi Borobudur bisa mencapai enam kilometer. Menggambarkan ajaran Buddha, Candi Borobudur terbagi menjadi tiga tingkat yang masing-masing menggambarkan kondisi manusia.

Tingkat dasar, yang disebut Kamadhatu, memiliki 160 relief yang menggambarkan manusia dengan semua hasrat dan keinginan duniawinya. Tingkat berikutnya, yang disebut Rapadhatu, menggambarkan transisi manusia yang mulai terlepas dari hal-hal duniawi. Lebih dari 1.300 relief dan 328 patung Buddha bernaung di tingkat ini. Sementara itu, tingkat teratas, yang disebut Arupadhatu, merupakan gambaran kesucian. Di tingkat ini terdapat deretan stupa berisi patung Buddha dan satu stupa kosong setinggi 42 meter di tengah.

Wat Rong Khun, Thailand

Umumnya, kuil Buddha identik dengan paduan warna merah, kuning, dan emas. Namun, kuil yang terletak di Provinsi Chiang Rai, Thailand ini justru hanya dibalut dengan satu warna. Penuh dengan ukiran detail yang menggambarkan ajaran Buddha, setiap inci bangunannya seakan diguyur cat berwarna putih polos. Oleh karena itu, Wat Rong Khun dikenal oleh khalayak umum dengan sebutan White Temple atau Kuil Putih. Keunikan tampilan Wat Rong Khun tak lepas dari andil pemilikya, seorang seniman lokal bernama Chalermchai Kositpipat. Chalermchai mendesain, membangun, dan membuka kuil tersebut untuk khalayak umum pada 1997. Kemegahannya menjadi bukti kebolehan sang seniman sekaligus menjadi persembahannya kepada Buddha. Ia berharap kuil unik ini tidak menjadi pameran seni semata, tetapi juga menjadi tempat ibadah dan pusat pembelajaran ajaran Buddha.

Terkenal dengan lukisan-lukisan bertema agama, Chalermchai menuangkan bakatnya ke dalam kuil unik ini. Ia mengombinasikan motifmotif tradisional Thailand dan citarasa seni modern untuk menggambarkan ajaran Buddha. Hasilnya, sebuah kuil yang jauh dari kata tradisional dan konvensional.

Alih-alih menggunakan warna emas, seperti kuil-kuil pada umumnya, Chalermchai menggunakan warna putih untuk menggambarkan kesucian Buddha. Untuk mencapai bangunan utama Wat Rong Khun, Anda harus melewati sebuah jembatan di atas danau kecil. Pahatan tangan-tangan yang menggapai, yang menggambarkan keinginan yang tak terkendali, menghiasi perjalanan Anda tersebut. Jembatan tersebut mengajarkan bahwa untuk mencapai kebahagiaan, kita harus melepaskan diri dari hasrat, keinginan, dan keserakahan.

Shwedagon Pagoda, Myanmar

Berdiri setinggi 99 meter di Bukit Singuttara pada ketinggian 58 meter di atas permukaan laut, Shewdagon Pagoda merupakan atraksi utama Yangon,

Ibukota Myanmar. Puncaknya yang berbalut emas dan bertabur batu permata tampak jelas dari berbagai sudut kota. Meski sejumlah arkeolog berargumen bahwa pagoda tersebut dibangun antara abad keenam dan kesepuluh, masyarakat setempat percaya bahwa Shwedagon sudah berdiri sejak 2.600 tahun yang lalu. Kisah spektakuler pun menghiasi sejarahnya. Dua pedagang bersaudara bertemu dengan Gautama Buddha, yang kemudian menyerahkan delapan helai rambutnya untuk diabadikan di Burma. Dengan bantuan beberapa roh dan penguasa setempat, Raja Okkalapa, kedua bersaudara itu menemukan Bukit Singuttara, tempat sejumlah peninggalan para Buddha sebelum Gautama diabadikan.

Sebuah kuil pun dibangun untuk menyimpan peninggalan-peninggalan Buddha tersebut. Saat delapan helai rambut Gautama Buddha dikeluarkan dari peti emas, tempat penyimpanannya, berbagai keajaiban terjadi. Menurut legenda, helai rambut sang Buddha memancarkan cahaya yang menembus ke surga dan neraka, kemudian orang buta bisa melihat, orang tuli bisa mendengar, orang bodoh berbicara dengan bijak, bumi berguncang, angin bertiup kencang, batu-batu permata jatuh dari langit, dan setiap pohon di Himalaya bermekaran bunga. Setelah itu, stupa dari berbagai macam bahan—emas, perak, perunggu, timah, besi, dan marmer—dibangun di permukaan kuil tempat barang peninggalan sang Buddha disimpan. Legenda ini membuat Shwedagon Pagoda tempat paling suci bagi para pengikut Buddha di Myanmar.

Angkor Wat, Kamboja


Candi yang terletak di Kota Angkor, Kamboja ini dibangun oleh Raja Suryawarman II pada pertengahan abad ke-12. Pembangunannya memakan waktu 30 tahun dan hasilnya begitu menakjubkan. Destinasi wisata utama Kamboja ini awalnya difungsikan sebagai tempat ibadah para penganut Hindu. Bahkan, sebelum mengemban nama Angkor Wat, yang berarti Kuil Kota Angkor, candi ini dinamakan Preah Pisnu-lok. Dalam bahasa Khmer Kuno, nama tersebut berarti “kawasan suci Wisnu” atau “tempat dewa Wisnu bersemayam”. Sebelum pembangunannya rampung, Raja Suryawarman II meninggal dunia. Proyek pembangunan candi ini pun berhenti, menyisakan sejumlah relief rendah yang belum selesai. Sekitar 27 setelah kematian Raja Suryawarman II, Kota Angkor diserang oleh Bangsa Champa, musuh Kerajaan Khmer. Lalu, Raja Jayawarman VII memulihkan kondisi kerajaan dan membangun ibukota baru di Angkor Thom, candi kerajaan baru yang letaknya hanya beberapa kilometer di utara Angkor Wat.

Baru pada akhir abad ke-13, candi Angkor Wat dialihfungsikan menjadi tempat ibadah Buddha Thervada. Meski demikian, pengaruh agama Hindu pada bangunannya masih terlihat jelas. Bagaimana tidak? Sejak awal pembangunannya, Angkor Wat didesain sebagai simbol Gunung Meru, tempat suci yang berdasarkan ajaran agama Hindu merupakan rumah para dewa. Menara Angkor Wat, menara utama dan tertinggi di dalam kompleks candi tersebut, dikelilingi dinding galeri dan terusan. Desain ini menggambarkan Gunung Meru sebagai pusat dunia yang dikelilingi pegunungan dan samudra.

Artikel saya ambil dari situs : https://wisataalam.co.id/